Translate Blog

Buku Berkualitas

Masukkan Code ini K1-8D2BYD-F untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Internetan Murah

Produk SMART Telecom

Facebookers

Rethinking


ShoutMix chat widget

Page Rank

Powered by  MyPagerank.Net

SOWAN KEPADA RUH KUNTOWIJOYO

Minggu, 22 November 2009

Ketika malaikat menawarkan langit kepadamu
penolakan sangat keras muncul dari nuranimu
karena kakimu masih menapak di bumi

Ketika malaikat menawarkan dunia kepadamu
engkau justru menapaki jalan penuh rasa haru
tanpa jabatan dan penuh kesederhanaan


Dengan tiba-tiba, kau meninggalkan khotbah di atas bukit
mendatangi pasar, bergelut dengan keramaian
kesadaran profetik memancar di depan cermin Sang Penyair Pakistan
kesadaran transendantal memenuhi ruang nurani Sang Filsuf Perancis
memantul menelisik di antara Muslim Tanpa Masjid

Mitos dan ideologi telah lekang oleh waktu
ilmu pun menjelma menjadi kekuatan bagimu
Islam kau ilmukan, Al-Qur'an kau teorikan
sehingga terbangun sebuah Paradigma Islam
itulah interpretasimu untuk aksi, menggerakkan transformasi sosial

Obyektifikasi menggantikan sekulerisme
menetralkan sakit hati umat dalam memahami doktrin
pluralisme positif kau jadikan alasan konkret
untuk menangkap multikulturalisme realitas sosial

Garden City pascaindustrial adalah cita-citamu

Foto: www.in-docs.org/assets/directory/kuntowijoyo1.jpg
Read More

JANGAN ROBEK SAJADAHKU!

Sabtu, 21 November 2009
Aku datang ke kota
untuk mengais sesuap nasi
Aku datang dari desa
meninggalkan anak istri

Bertahun-tahun aku menyulamnya
dengan lapar dan dahaga
Bertahun-tahun aku menggelarnya
dengan air mata dan keringat darah

O . . . Allahku, lapar dan dahaga
kau hitung sebagai dzikirku
O . . . Allahku, air mata dan keringat darah
kau terima sebagai solatku

Puji bagi-Mu tak kan henti dari mulutku
Syukur bagi-Mu tak kan luntur dari jiwaku

Tapi . . .
mereka telah merenggut alat dzikirku
Juga . . .
telah melibas alas solatku

Aku disangka mengganggu keindahan kota
Aku dituduh telah merusak ketertiban kota

Hai penguasa!
Jangan robek sajadahku!

Foto: dipotong dari http://everythingspossible.files.wordpress.com/2008/05/dscn1271.jpg
Read More

CREATIVE MINORITY, YANG MENATAP MASA DEPAN

Selasa, 17 November 2009
Di tengah keramaian politik Indonesia, beberapa temanku justru menyepi ke sudut-sudut desa yang jauh dari peredaran informasi. Mereka memilih bergabung dengan rakyat kecil untuk melakukan perubahan-perubahan kecil, penyadaran diri akan lingkungan. Sebagian temanku yang lain, mengurung diri di dalam kamarnya, bergelut dengan buku-buku tebal berisi rangkuman realitas yang terteorikan. Kedua jalur yang ditempuh mereka adalah “jalan sunyi” yang bukan tak memiliki tujuan. Ya, justru di mata merekalah aku melihat masa depan.

Jalan yang dilalui temanku pertama adalah jalan pemberdayaan, sedangkan yang kedua adalah jalan cendekiawan. Meskipun sama-sama memandang masa depan, tetapi mereka sering bersebrangan. Mereka yang berada di jalan pemberdayaan selalu menuduh bahwa para cendekiawan terlalu asyik dengan “tahta” di menara gading. Para cendekiawan pun tak kalah keras menuduh bahwa para penggerak pemberdayaan tak memiliki ilmu yang cukup untuk melakukan perubahan.

Dari konflik inilah aku mulai belajar bahwa keinginan seseorang untuk menjadi cendekiawan maupun penggerak pemberdayaan adalah pilihan yang sulit. Bukan keterpelajaran dan kecerdasan saja, layaknya seorang doktor atau professor, yang dibutuhkan. Bukan pula keakraban dengan Ibn Rusd, Ibn Sina, Al-Ghazali, Karl Marx, Jurgen Habermas, Nietzsche, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Anthony Gidden, Antonio Gramsci, Michel Foucault, Derrida Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, Umberto Eco, maupun Jean Baudrillard yang akan menerbangkan seseorang di atas permadani, tak menyentuh praxis. Watak kecendekiawanan tentu meminta lebih dari itu.


Jika kita mau mencontoh, mestinya kepada Nabi Muhammad. Kekuatan beliau dalam memahami realitas kaumnya telah membawa konflik batin yang tak ringan. Selama sebulan menyepi di dalam Gua Hira, beliau hanya memikirkan umatnya, hingga akhirnya pun Allah menjawab dengan wahyu berupa Surat Al-Alaq yang berisi tentang perintah “membaca”. Inilah contoh kejiwaan seorang cendekiawan yang kerap merasakan konflik tatkala ada diskrepansi antara apa yang ia rasakan dengan apa yang dirasakan masyarakatnya. Setelah itu, Nabi bergerak menggoreskan sejarah bersama umat, melakukan praxis yang benar-benar telah menggetarkan peradaban dunia.

Tak di pungkiri, Indonesia memiliki banyak kaum cerdik pandai, namun hanya sedikit di antara mereka yang memainkan peran sebagai seorang cendekiawan. “Kaum cendekiawan adalah creative minority yang sadar diri dan sadar sosial di tengah-tengah massa yang tidur. Mereka adalah yang memiliki kepedulian untuk membangkitkan kesadaran masyarakatnya dan menjadi motor penggerak bagi perubahan menuju ke arah yang lebih baik (transformasi),” begitulah pesan almarhum Kiai Kuntowijoyo, yang begitu getol memperjuangkan gagasan Ilmu Sosial Profetik-nya.

Sosok cendekiawan Indonesia masa kini, bagi Kuntowijoyo, kira-kira seperti cendekiawan Amerika pada masa Perang Dunia I, angkatan John Dewey dan Walter Lippman, waktu mereka terlibat dalam merumuskan kebijakan nasional dan perang ideologis. Cendekiawan Indonesia terlalu dekat, bahkan berada dalam tubuh pemerintahan, sehingga tak mampu membaca kondisi nyata rakyatnya.

Karenanya, tak heran jika kedua temanku, yang berseberangan di jalan pemberdayaan dan cendekiawan itu, ternyata sama-sama kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat, bahkan menyengsarakan. Temanku yang bergerak dalam ranah pemberdayaan sangat dekat dengan masyarakat “menengah ke bawah”, sedangkan yang berusaha menjadi cendekiawan sangat dekat dengan masyarakat “menengah ke atas”. Mereka sama-sama berusaha melakukan penyadaran di wilayahnya masing-masing. Aku sendiri hanya bisa berdoa, semoga perjuangan mereka dicatat oleh malaikat sebagai amal yang baik, amin.
Read More

AL-QUR’AN MITOS BANGSA ARAB

Sabtu, 07 November 2009
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (Q.S. an-Nahl [16]: 15-17).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kondisi gunung, terutama gunung berapi, sangat penting bagi kelangsungan manusia yang hidup di atas bumi: supaya guncangan (gempa bumi) dapat diminimalisir. Mengapa seperti itu? Isi perut bumi membutuhkan ruang untuk memutar. Jika terlalu penuh, isi perut bumi bisa menimbulkan tekanan yang dahsyat dan bisa meretakkan kerak bumi, bahkan menghancurkan kerak bumi. Nah, keluarnya magma dari gunung berapi telah mengurangi volume isi perut bumi, sehingga tekanan yang diakibatkan oleh perputaran isi perut bumi bisa diminimalisir.

Aku jadi teringat dengan seorang teman yang menceritakan petuah Mbah Marijan, sebelum terjadi gempa Yogyakarta 27 Mei 2006. Katanya, di saat media dan pemerintah mempermasalahkan Gunung Merapi yang sedang mengeluarkan magmanya, dan menjadi lahar, Mbah Marijan malah mengunjungi bukit Merapi. Kemudian Mbah Marijan justru meminta masyarakat, melalui media (wartawan), untuk melihat ke arah selatan, yaitu laut selatan. Selang beberapa hari entah minggu, terjadilah gempa di Bantul.

Cerita ini memang aneh. Semua temanku, yang pada waktu itu tinggal bersama di kontrakan, menyangka bahwa gempa yang terjadi adalah gempa vulkanik yang disebabkan aktivitas Merapi. Kami semua tak memiliki pemikiran bahwa gunung memiliki hubungan erat dengan lempengan bumi. Kami baru mengetahui jika gempa terjadi di laut selatan setelah mendengarkan siaran radio, dan mendadak orang-orang dari selatan berlarian sambil meneriakkan, “Air…, air…!”

Membaca ayat di atas kembali, aku jadi punya pikiran bahwa ayat ini benar-benar telah mengingatkan tentang dinamika pergerakan bumi, dan segala yang melingkupinya, termasuk sungai-sungai yang biasanya berhulu di perbukitan atau pegunungan. Para ilmuan menemukan bahwa kebanyakan sungai yang berhulu di pegunungan, mekipun tak semuanya, di bawahnya adalah patahan yang sangat rawan terhadap guncangan gempa.

Lagi-lagi, para ilmuan menemukan bahwa binatang memiliki memiliki sensivitas terhadap bencana, terutama gempa. Penemuan ini tentu membenarkan ayat yang aku kutip di atas. “Ah, itu justifikasi kamu saja,” begitu kata beberapa teman, “Mengapa kamu masih percaya degan mitos bangsa Arab 14 abad lalu?”

Aku kemudian berpikir, jika ayat-ayat di dalam Al-Qur’an adalah mitos bangsa Arab, berarti bangsa saudagar itu hebat, karena mampu membuat mitos yang kemudian dibuktikan secara ilmiah oleh para ilmuan geologi, terutama ilmuan Barat.

Oleh karena itu, aku masih percaya bahwa Al-Qur’an memang sebuah kitab suci yang diturunkan untuk memberikan petunjuk, bagi ulil albab (mereka yang berpikir).

Jika mengingat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam zaman masih sekolah dulu, alam ini, termasuk bumi, bergerak secara dinamis. Dan, kedinamisannya itu telah memberikan petunjuk bahwa segala perilaku manusia di atas bumi tentu memiliki pengaruh terhadap gerak dinamis alamnya. Jika polusi dan penghabisan hutan telah kita aku sebagai penyebab rusaknya ozon dan menimbulkan global warming, tentu perilaku-perilaku lain masih banyak yang mampu mempengaruhi atau baahkan merusak bumi.

Kita mesti ingat bahwa munculnya global warming bukan tiba-tiba, tetapi merupakan akumulasi perilaku distruktif manusia yang terjadi puluhan tahun, bahkan ratusan tahun secara bersama-sama di berbagai belahan atau sudut dunia. Perilaku destruktif itu layaknya makanan berracun yang masuk dalam tubuh kita. Beracun di sini adalah makanan yang tak organik. Misalnya beras, buah, daging ayam, dan lain sebagainya, yang dalam proses pembudidayaannya menggunakan bahan kimia yang sesungguhnya berbahaya bagi kesehatan.

Makanan yang kita makan, lama-lama akan menimbulkan penyakit, apalagi jika tak diimbangi dengan olahraga yang cukup. Oleh karena itu, filsafat medis Timur cenderung mengobati seorang pasien dengan cara perlahan-lahan, tidak sedikit-sedikit dengan operasi.

Lalu, perilaku manusia mana saja yang mampu mempengaruhi atau menyebabkan gempa? Menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah. Akan tetapi, kita bisa menyebut beberapa gerakan massif yang dilakukan oleh manusia, dan berpotensi merusak bumi. Sebut saja, perang yang menggunakan bom nuklir. Jatuhnya dan ledakan bom tentu sedikit banyak mempengaruhi kerak bumi. Kita bayangkan saja, sebuah petasan besar saja bisa menggetarkan bumi. Tentunya, pengaruh itu tak bisa langusung terlihat oleh mata kita, karena mungkin terlalu kecil.

Perngaruh lain atas kerak bumi adalah pencemaran air. Jika seluruh penduduk di dunia ini ikut andil dalam pencemaran air, yang hampir semuanya mengalir ke laut, tentu air laut yang tercemar sedikit banyak mempengaruhi lempengan dan patahan di laut: membuatnya rapuh, mungkin. Penancapan paku bumi di berbagai kota di belahan dunia yang digunakan untuk mendirikan gedung, tentu juga mempengaruhi posisi kerak bumi. Hal ini, tentu juga berlaku bagi berbagai radiasi yang ditimbulkan oleh teknologi, terutama teknologi informasi, di seluruh dunia. Lalu, apakah kita juga tak memikirkan bahwa cuaca yang panas akibat rusaknya ozon tidak mempengaruhi gerak dinamis bumi?

Yang perlu kita ingat adalah gerak evolusioner dan dinamisnya alam, serta kun fayakun Allah. Proses dinamika alam bergerak sedikit-demi-sedikit, bahkan penciptaan alam semesta pun melalui enam masa. Awal dan akhir adalah kun fayakun Allah sebagai takdir bagi manusia.

Grenengan ini kemudian membuatku berpikir bahwa integralisme keilmuan itu memang benar-benar dibutuhkan untuk membaca realitas alam. Meskipun tulisan ini hanyalah angan-angan belaka dari seorang hina yang tak berilmu, semoga mampu menggugah Anda untuk selalu berpikir integratif. Bagaimana pun wallahu a’lam bishshawwaf, ilmu-ilmu alam susah dijawab...he…he.
Read More

GLOBALISASI: ARUS BUDAYA YANG TAK TERBENDUNG

Senin, 02 November 2009
Memasuki periode ilmu (dalam bahasa Kuntowijoyo), umat Islam dihadapkan dengan dinamika kehidupan yang serba cepat (speed). Dengan prestasi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama informasi), akselerasi perubahan dunia menjadi tidak terbayangkan seperti sebelumnya. Semua proyek besar dunia yang dikuasai oleh kapitalisme global, begitu mudah menuai keberhasilan. Melalui korporasi multinasional yang menjamah hampir seluruh pelosok bumi ini, nyaris tidak ada sisi kehidupan umat yang tidak terimbas olehnya.

Tanpa sadar, angan-angan umat tentang globalisasi sebagai konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi, menjadi sebuah keniscayaan. Globalisasi seperti sebuah gerak alamiah (sunatullah), yang diciptakan Tuhan, tanpa campur tangan manusia. Ini terjadi, karena globalisasi telah menyebabkan tata aturan (hukum) dunia seperti tidak berlaku lagi. Semua budaya boleh memasuki semua tempat di dunia ini dari segala penjuru arah, tanpa filter yang kuat dari umat. Tanpa peduli terhadap kesesuaiaan dan keserasian budaya asli (local). Selain itu, faktor individu manusia sebagai pencipta ilmu dan teknologi yang telah menyebabkan munculnya globalisasi, juga sangat menentukan akselerasi pertumbuhan globalisasi. Struktur kesadaran individu umat hampir tidak memiliki penolakan terhadap realitas yang terjadi di luar dirinya.

Persoalan yang terakhir ini, menurut Herbert Marcuse disebut sebagai "desublimasi represif". Semua tampilan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan pemakluman-pemakluman, sofistikasi moralitas brutal, atau estetisasi nilai-nilai etis. Umat telah kehilangan kekuatan untuk menolak segala sesuatu yang menimpa kehidupannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perluasan-perluasan budaya yang dilakukan kapitalisme menjadi identik dengan kehidupan umat sendiri, sehingga terjadi taklid membuta terhadap budaya kapitalisme itu. Setiap usaha yang dilakukan umat untuk membongkar (mendekonstruksi) budaya kapitalisme, justru mambantu mampermudah kapitalisme merekonstruksi diri. Kritik terhadap kapitalisme menjelma menjadi eksistensi kapitalisme itu sendiri.

Memandang kepasifan manusia modern yang nyaris tanpa perasaan ini, Erich Fromm berkata bahwa manusia (masyarakat) modern saat ini telah dimesinkan secara total, dicurahkan untuk meningkatkan produksi dan konsumsi material, dan diarahkan oleh mesin-mesin (komputer). Masyarakat dalam proses sosial semacam ini menjadi bagian dari produksi budaya yang dihasilkan oleh mesin-mesin yang diciptakannya sendiri. Manusia melahirkan sistem sosialnya sendiri, tetapi begitu tercipta, ia kehilangan kontrol terhadap sistem tersebut, bahkan berbatik terkontrol oleh sistem.

Dalam pandangan Peter L. Berger, manusia menciptakan masyarakat (beserta sistem sosialnya), dan berbalik masyarakat menciptakan individu. Masyarakat global memaksa individu umat mengikuti keputusan-keputusan yang dibuat dalam kerangka memproduksi budaya global. Umat kehilangan kontrol, dan menjadi terkontrol oleh sistem produksi yang disesuaikan dengan pasar. Kondisi umat semakin terpuruk karena dipaksa berproduksi dan mengkonsumsi tanpa tahu untuk apa dan mengapa.

Dengan demikian, umat tidak bisa menyatakan diri sebagai manusia yang benar-benar bebas dalam arti sebenarnya. Ini disebabkan oleh globalisasi yang membuat jurang pemisah antara negara maju dan negara miskin, semakin lebar. Globalisasi juga mempertegas identitas individu dan sosial, sehingga mempengaruhi aksebilitas individu atau kelompok dalam masyarakat global. Walaupun bermunculan identitas lokal, namun keberadaan pusat tetap memegang kendali kekuasaan dalam segala bidang kekuasaan. Globalisasi tidak menghapuskan hierarki, namun sebaliknya mengemas diri menjadi ketergantungan baru dengan standarisasi yang ditentukan aktor-aktor di pusat kekuasaan. Oleh karena itu, tidak lain globalisasi adalah sofistikasi imeprialisme dalam skala dunia. Semua lini kehidupan dipenuhi dengan dominasi, hegemoni, dan belenggu struktur kekuasaan kapitalisme.

Di tengah realitas yang "menggila" dan tak bermakna ini, produksi-produksi budaya lokal umat yang masih berjalan dengan setitik kesadaran etis, hanya seperti debu-debu jalanan yang beterbangan kesana-kemari tanpa pernah dapat sebuah pengakuan. Alih-alih mendapatkan ruang yang menunjukkan sebuah eksistensial, sebaliknya siap dimanfaatkan sebagai salah satu pendukung budaya kapitalisme dengan kemasan yang melenakan dan mempesona umat.

Perubahan dunia melejit dengan akselerasi tinggi. Orang hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk memperoleh informasi dari belahan dunia lain. Icon "klik" dalam istilah internet adalah kebanggaan dunia informasi.

Revolusi teknologi informasi membuat orang tidak perlu melakukan perjalanan jarak-jauh untuk mengetahui isi dunia. Hanya dengan duduk dan "klik", kita sudah berwisata ke belahan dunia lain. Dunia tidak ubahnya sebuah "desa global" yang di dalamnya dihuni oleh manusia yang berinteraksi dengan menggunakan kecanggihan teknologi. Jarak-tempuh digantikan dengan selang-waktu. Perjalanan ke negara lain dengan transportasi yang menyita waktu, dapat di lakukan dengan teknologi informasi beberapa detik. Jarak-tempuh antar belahan dunia yang dipisahkan oleh luasnya Samudera, bukan menjadi masalah besar bagi manusia.
Read More

“IBU RUMAH TANGGA” JUGA PROFESI

Senin, 05 Oktober 2009
Di tengah perjalanan mengarungi kesadaran bermasyarakat, aku terpukul oleh sebuah pengakuan seorang teman tentang tuduhan yang dialamatkannya, terkait istrinya yang tidak bekerja, melainkan menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Tapi, sebentar dulu, kayaknya kalimatku ini ada kesalahan: APAKAH MENJADI IBU RUMAH TANGGA itu BUKAN PEKERJAAN? Inilah mungkin anggapan kita, sebagian orang yang merasa memiliki kesadaran gender, tidak memasukkan IRT sebagai pekerjaan. Padahal, jika dinilai secara fisik, pekerjaan IRT itu sangat melelahkan, makanya banyak lelaki menghindarinya. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab munculnya penghinaan, penindasan, dan kekerasan terhadap para Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang dilakukan oleh masyarakat kita.

Melanjutkan cerita teman saya, ternyata ketidakbekerjaan istrinya telah menimbulkan berbagai omongan di antara tetangganya: “Buat apa kuliah jika hanya di rumah?”; “Mubadzir ilmunya!”; atau “Yang tamatan SMP aja bisa kerja, kok!?” Hal ini terasa tidak nyaman di telinga temanku. Aku memaklumi kondisi ini. Pertama, kesadaran perempuan di masyarakat kita untuk bekerja di luar rumah telah muncul, terutama di perkotaan. Kedua, masyarakat kita terlanjur berparadigma bahwa sekolah atau kuliah untuk bekerja.

Temanku dan istrinya memang sengaja tak mengikuti kebanyakan masyarakat modern saat ini. Mereka berdua telah bersepakat bahwa sekolah dan kuliah bukan untuk bekerja, tetapi untuk ilmu. Mereka juga bersepakat bahwa IRT adalah pekerjaan yang sangat mulia dan perlu. Bahkan mereka telah bersepakat bahwa IRT wajib mendapatkan upah atau gaji yang setimpal. Oleh karena itu, menurut mereka ada nafkah lahir (uang belanja) yang otoritasnya secara penuh dipegang istri. Mereka merasa bahwa kesetaraan itu tidak harus istri bekerja di luar rumah. Kesetaraan itu bisa di semua wilayah, ekonomi, budaya, sosial, dan mungkin agama.

Mereka berpendapat bahwa kesetaraan secara ekonomi adalah suami yang bekerja, gaji diberikan kepada istri untuk uang belanja yang dinikmati sekeluarga. Jadi, suami tidak bisa menikmati gajinya sendiri semaunya, sebab istri juga bekerja di rumah untuk menyuport kesuksesan pekerjaan suami. Sedangkan dalam ranah budaya, istri dan suami dilarihkan dari dua latar belakang keluarga dan budaya yang berbeda, karenanya mesti sama-sama mengajarkan budaya baik dari keduanya terhadap anaknya. Lain juga dalam lingkup sosial, suami-istri diperbolehkan untuk berorganisasi dan bergaul dengan masyarakat dan komunitasnya, jika memang punya. Jika salah satu tidak memiliki komunitas, boleh bergabung dengan komunitas yang ada (milik salah satu, yang mungkin tak selalu berhubungan dengan pekerjaan). Dan, dalam ranah agama, ketakwaan suami-istri hanya Allah yang mampu mengukur.

Aku jadi teringat kisah yang terjadi zaman Khalifah Umar bin Khattab r.a. Ada seorang sahabat hendak melaporkan istrinya, yang kasar dan cerewet, kepada Khalifah Umar. Dia ingin saran dari Khalifah Umar untuk menghadapi istrinya. Saat sahabat itu sampai di depan rumah Khalifah Umar. Ketika sampai di depan rumah Khalifah Umar, sahabat tersebut dihentikan oleh suara perempuan dari dalam rumah yang sedang marah. Ternyata Khalifah Umar Al-Faruq sedang dimarahi oleh istrinya. Yang mengherankan sahabat tersebut adalah kediaman Umar Al-Faruq terhadap perilaku istrinya.

Spontan sahabat tersebut berpikir, ”Kalau Khalifah Umar saja diam, saat dimarahi istrinya, apa yang bisa disarankannya untukku?”

Sahabat tersebutpun berniat pulang, dan tidak jadi meminta pendapat beliau. Selang beberapa langkah, sahabat tersebut dipanggil oleh Khalifah Umar, yang tak sengaja ke luar melihatnya, ”Wahai Fulan, kau telah sampai di depan rumahku, mengapa hendak kembali lagi?”

Mendengar pangilan Khalifah Umar, sahabat tersebut menghampiri dan berkata, ”Maafkan aku, wahai ’Amirul Mukminin, tadi aku hendak melaporkan perilaku istriku yang kasar terhadapku. Tapi, ternyata kulihat engkau diam saja ketika dimarahi istrimu, jadi kufikir apa saran yang bisa kudapat darimu?”

Dengan tenang Khalifah Umar menjawab, ”Kenapa aku diam saja, ketika istriku marah padaku? Sebab, aku menghormatinya. Aku mengalah dan membiarkannya memarahiku, karena dia telah banyak membantuku. Dia yang mengurus aku dan rumahku, mencucikan baju untukku, membuatkan roti untukku, memasak untukku, dan melakukan pekerjaan lainnya. Padahal, semua itu tidak pernah kuperintahkan padanya. Jadi, sudah sepantasnya aku memuliakannya.”

Mendengar jawaban Khalifah Umar, sahabat tersebut pun kembali kepada istrinya dengan hati yang tenang. Begitulah kawan-kawan, cerita yang mungkin dapat dijadikan justifikasi atas masalah yang sedang dialami oleh temanku. Baginya, kesetaraan gender tidak selalu tuntutan pekerjaan di luar rumah. Kawan-kawan juga pasti sering mendengar bahwa di balik kesuksesan seorang laki-laki adalah perempuan-perempuan yang tangguh.

Bagaimana dengan pendapat kalian?
Read More