“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (Q.S. an-Nahl [16]: 15-17).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kondisi gunung, terutama gunung berapi, sangat penting bagi kelangsungan manusia yang hidup di atas bumi: supaya guncangan (gempa bumi) dapat diminimalisir. Mengapa seperti itu? Isi perut bumi membutuhkan ruang untuk memutar. Jika terlalu penuh, isi perut bumi bisa menimbulkan tekanan yang dahsyat dan bisa meretakkan kerak bumi, bahkan menghancurkan kerak bumi. Nah, keluarnya magma dari gunung berapi telah mengurangi volume isi perut bumi, sehingga tekanan yang diakibatkan oleh perputaran isi perut bumi bisa diminimalisir.
Aku jadi teringat dengan seorang teman yang menceritakan petuah Mbah Marijan, sebelum terjadi gempa Yogyakarta 27 Mei 2006. Katanya, di saat media dan pemerintah mempermasalahkan Gunung Merapi yang sedang mengeluarkan magmanya, dan menjadi lahar, Mbah Marijan malah mengunjungi bukit Merapi. Kemudian Mbah Marijan justru meminta masyarakat, melalui media (wartawan), untuk melihat ke arah selatan, yaitu laut selatan. Selang beberapa hari entah minggu, terjadilah gempa di Bantul.
Cerita ini memang aneh. Semua temanku, yang pada waktu itu tinggal bersama di kontrakan, menyangka bahwa gempa yang terjadi adalah gempa vulkanik yang disebabkan aktivitas Merapi. Kami semua tak memiliki pemikiran bahwa gunung memiliki hubungan erat dengan lempengan bumi. Kami baru mengetahui jika gempa terjadi di laut selatan setelah mendengarkan siaran radio, dan mendadak orang-orang dari selatan berlarian sambil meneriakkan, “Air…, air…!”
Membaca ayat di atas kembali, aku jadi punya pikiran bahwa ayat ini benar-benar telah mengingatkan tentang dinamika pergerakan bumi, dan segala yang melingkupinya, termasuk sungai-sungai yang biasanya berhulu di perbukitan atau pegunungan. Para ilmuan menemukan bahwa kebanyakan sungai yang berhulu di pegunungan, mekipun tak semuanya, di bawahnya adalah patahan yang sangat rawan terhadap guncangan gempa.
Lagi-lagi, para ilmuan menemukan bahwa binatang memiliki memiliki sensivitas terhadap bencana, terutama gempa. Penemuan ini tentu membenarkan ayat yang aku kutip di atas. “Ah, itu justifikasi kamu saja,” begitu kata beberapa teman, “Mengapa kamu masih percaya degan mitos bangsa Arab 14 abad lalu?”
Aku kemudian berpikir, jika ayat-ayat di dalam Al-Qur’an adalah mitos bangsa Arab, berarti bangsa saudagar itu hebat, karena mampu membuat mitos yang kemudian dibuktikan secara ilmiah oleh para ilmuan geologi, terutama ilmuan Barat.
Oleh karena itu, aku masih percaya bahwa Al-Qur’an memang sebuah kitab suci yang diturunkan untuk memberikan petunjuk, bagi ulil albab (mereka yang berpikir).
Jika mengingat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam zaman masih sekolah dulu, alam ini, termasuk bumi, bergerak secara dinamis. Dan, kedinamisannya itu telah memberikan petunjuk bahwa segala perilaku manusia di atas bumi tentu memiliki pengaruh terhadap gerak dinamis alamnya. Jika polusi dan penghabisan hutan telah kita aku sebagai penyebab rusaknya ozon dan menimbulkan global warming, tentu perilaku-perilaku lain masih banyak yang mampu mempengaruhi atau baahkan merusak bumi.
Kita mesti ingat bahwa munculnya global warming bukan tiba-tiba, tetapi merupakan akumulasi perilaku distruktif manusia yang terjadi puluhan tahun, bahkan ratusan tahun secara bersama-sama di berbagai belahan atau sudut dunia. Perilaku destruktif itu layaknya makanan berracun yang masuk dalam tubuh kita. Beracun di sini adalah makanan yang tak organik. Misalnya beras, buah, daging ayam, dan lain sebagainya, yang dalam proses pembudidayaannya menggunakan bahan kimia yang sesungguhnya berbahaya bagi kesehatan.
Makanan yang kita makan, lama-lama akan menimbulkan penyakit, apalagi jika tak diimbangi dengan olahraga yang cukup. Oleh karena itu, filsafat medis Timur cenderung mengobati seorang pasien dengan cara perlahan-lahan, tidak sedikit-sedikit dengan operasi.
Lalu, perilaku manusia mana saja yang mampu mempengaruhi atau menyebabkan gempa? Menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah. Akan tetapi, kita bisa menyebut beberapa gerakan massif yang dilakukan oleh manusia, dan berpotensi merusak bumi. Sebut saja, perang yang menggunakan bom nuklir. Jatuhnya dan ledakan bom tentu sedikit banyak mempengaruhi kerak bumi. Kita bayangkan saja, sebuah petasan besar saja bisa menggetarkan bumi. Tentunya, pengaruh itu tak bisa langusung terlihat oleh mata kita, karena mungkin terlalu kecil.
Perngaruh lain atas kerak bumi adalah pencemaran air. Jika seluruh penduduk di dunia ini ikut andil dalam pencemaran air, yang hampir semuanya mengalir ke laut, tentu air laut yang tercemar sedikit banyak mempengaruhi lempengan dan patahan di laut: membuatnya rapuh, mungkin. Penancapan paku bumi di berbagai kota di belahan dunia yang digunakan untuk mendirikan gedung, tentu juga mempengaruhi posisi kerak bumi. Hal ini, tentu juga berlaku bagi berbagai radiasi yang ditimbulkan oleh teknologi, terutama teknologi informasi, di seluruh dunia. Lalu, apakah kita juga tak memikirkan bahwa cuaca yang panas akibat rusaknya ozon tidak mempengaruhi gerak dinamis bumi?
Yang perlu kita ingat adalah gerak evolusioner dan dinamisnya alam, serta kun fayakun Allah. Proses dinamika alam bergerak sedikit-demi-sedikit, bahkan penciptaan alam semesta pun melalui enam masa. Awal dan akhir adalah kun fayakun Allah sebagai takdir bagi manusia.
Grenengan ini kemudian membuatku berpikir bahwa integralisme keilmuan itu memang benar-benar dibutuhkan untuk membaca realitas alam. Meskipun tulisan ini hanyalah angan-angan belaka dari seorang hina yang tak berilmu, semoga mampu menggugah Anda untuk selalu berpikir integratif. Bagaimana pun wallahu a’lam bishshawwaf, ilmu-ilmu alam susah dijawab...he…he.